teman adalah hadiah

Sahabat laksana bingkisan hadiah. Dari bungkus luarnya saja, kita seolah-olah sudah mengetahui apakah isinya itu menarik atau tidak menarik. Apa perbedaan yang Kita rasakan ketika mendapat hadiah yang dibungkus dengan kertas kado atau hadiah yang dibungkus dengan kertas koran.
Kita patut merasa senang karena mendapat hadiah tersebut. Bayangin saja kalo kita hidup sendirian. Mau ngobrol, sama buah-buahan, mau main congklak sama kodok. Main petak umpet sama siapa hayo… Masa cari-cari diri sendiri. Bingung,kan.
Yang nerangin juga bingung ini. Hehehe. Namun, jangan terlalu senang. Bisa jadi senang Kita yang berlebihan itu akan berubah menjadi kekecewaan setelah melihat isinya. Don’t judge the book fromi its cover! Seperti seorang teman yang baru kita kenal. Fisiknya bagus, atletis. Wajah cakep, tiap hari bawa mobil, sering mentraktir dan masih banyak lagi keadaan dia yang bisa membuat kecemburuan sosial buat orang yang kurang bersyukur. Itu semua kadang secara langsung membuat kita yakin bahwa dia adalah seorang teman yang ideal.
Kita sebagai makhluk sosial memiliki jiwa yang saling membutuhkan bantuan dan keberadaan orang lain. Dan kita juga memiliki kecenderungan lebih nyaman bersama dengan teman yang sefaham, memiliki kesamaan hobi, pandangan dan pemikiran sama dengan kita. Namun, semua tak bisa berhenti disitu saja. Sesungguhnya hanya Allah yang Maha Mengetahui segala kebaikan bagi hamba-hambaNya. Bukannya kita kudu curiga setiap kali dapat teman baru. Seperti kita mau membeli barang bekas. Semisal hp. Kan kita cek dulu kondisinya. Apa pernah dibongkar atau belum pernah. Apakah layar LCD-nya masih sehat atau malah membuat mata kita rabun. Nah terhadap teman baru kita, mungkin ga ada salahnya kalau pakai metode analisa. Dianalisa dulu dia. Bagaimana karakternya? Bagaimana agamanya? Akhlaknya bagaimana? Bisa dipercaya ga? Menghargai dirinya sendiri? Soalnya kalau orang yang tidak menghargai dirinya, dipastikan tidak menghargai orang lain dilain hal. Nah, kalau menurut pandangan tidak ada yang melanggar aturan, ya kita jadikan teman. Apalagi kalau dia sedikit borju, ga terima jadi teman saja. Jadi sahabatnya kita juga rela-rela saja. Pasrah, deh. Tapi kalau dia sedikit kriminalis bagaimana? Tidak melaksanakan sholat fardhu itu juga perilaku kriminal. Penjahat agama. Kan nantinya juga dihukum. Jadi juga termasuk penjahat. Ya tetap kita jadikan teman. Teman seperti diakan kudu dibimbing. Mungkin mereka tidak tahu atau karena sesat. Tugas teman-temannya untuk memperbakinya. Bukankah sesama muslim adalah saudara. Bukankah sesama saudara harus saling nasehat-menasehati dan mengajak untuk berlaku sabar?
Lagian, hitung-hitung teman seperti ini adalah ladang amal buat kita, jika kita melakukannya dengan keikhlasan.

0 komentar:



Posting Komentar